Mengapa JSON Lebih Memikat Hati Pengembang?

Setiap orang pasti punya preferensi, kecuali orang yang tidak punya ๐Ÿ˜€

Begitu pula terhadap teknologi. Dalam dekade terakhir, perkembangan teknologi web begitu pesat. Berbagai layanan muncul secara daring dan tidak segan-segan memberikan akses secara gratis kepada warga dunia dengan (biasanya) menyetujui persyaratan yang telah ditetapkan dan sewaktu-waktu dapat berubah ๐Ÿ™‚

Sebuah layanan daring yang begitu populer bernama Google punya seabrek aplikasi web yang bisa kita manfaatkan secara ‘gratis’. Ambil contoh untuk layanan terbarunya yg bernama Google Plus (g+). Pengguna bisa berinterkasi, kirim mengirim pesan, update informasi terbaru, dan sebagainya. Bahkan informasi tersebut dapat muncul tanpa harus meninggalkan halaman terlebih dahulu (memunculkan layar putih polos, lalu memuat halaman baru). Menarik bukan…

Tentunya hal yg (menurut saya) lebih menarik adalah teknologi-teknologi yang digunakan di baliknya. Bagaimana cara komputer kita berbicara dengan komputer Google? Menggunakan bahasa apa? Kok bisa saling mengerti kedua komputer, meskipun mungkin beda sistem operasi, perangkat keras, bahkan merek ๐Ÿ˜€

Di akhir abad lalu, ada sebuah ‘bahasa’ yang banyak digunakan untuk operasi semacam ini. XML sebutannya. eXtended Markup Language kepanjangannya. Tahun 1996 dimulainya. XML ini menggunakan format tag, seperti HTML, untuk menyimpan datanya.

Belakangan, ada saudara mudanya yang ternyata punya rating pemakaian lebih tinggi. JSON namanya. JavaScript Object Notation kepanjangannya. Digunakan pertama kali sekitar tahun 2001. Bebeda dengan XML, JSON tidak menggunakan format tag, tapi lebih mirip array di berbagai bahasa pemrograman. Cek rumahnya saja untuk contohnya.

James Clark, seorang kepala teknik di W3C untuk XML, mengatakan ternyata semakin hari XML semakin menurun popularitasnya dalam teknologi web, sedangkan saudara mudanya, JSON, malah merangkak naik. Ambil contoh Twitter dan FourSquare yang telah menyatakan cerai dari XML dan meminang JSON.

Clark melihat ada beberapa hal yang menyebabkan JSON memiliki lebih banyak peminat dibanding XML :

  1. JSON lebih bagus dalam merepresentasikan struktur data yang language-independent dibanding XML
  2. JSON lebih sederhana
  3. JSON lebih menarik dalam menangani beragam konten
  4. XML terkesan lebih ekslusif untuk perusahaan, JSON lebih egaliter

Mungkin benar juga apa yang disarankan Clark. XML patut meningkatkan integrasinya dengan HTML5 yang sekarang sudah mulai booming agar tidak semakin tertinggal JSON.

Apa mungkin suatu saat nanti XML dalam berbagai format dokumen akan digantikan JSON?

 

Referensi :
http://www.readwriteweb.com/hack/2010/11/json-vs-xml.php
http://en.wikipedia.org/wiki/JSON
http://en.wikipedia.org/wiki/XML

Iklan

Silahkan berkomentar ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s